anita's posts with tag: sehat
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Konjungtivitis adalah suatu peradangan pada konjungtiva (selaput lendir
yang melapisi permukaan dalam kelopak mata (bagian putih mata))
Penyebab:
1. Infeksi oleh virus atau bakteri.
2. Rekasi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang
3. Iritasi oleh angin, debu, asap dan polusi udara lainnya: sinar
ultraviolet dari las listrik atau sinar matahari yang dipantulkan oleh
salju.
4. Pemakaian lensa kontak terutama pada jangka waktu yang panjang juga dapat menyebabkan konjungtivitis.
Gejala:
Konjungtiva yang mengalami iritasi akan tampak merah dan mengeluarkan
kotoran. Konjungtivitis karena bakteri mengeluarkan kotoran yang kental
dan berwarna putih. Konjungtivitis karena virus atau alergi
mengeluarkan kotoran yang jernih.
Kelopak mata bisa membengkak dan sangat gatal, terutama pada konjungtivitis karena alergi.
Gejala lainnya adalah: mata berair, terasa nyeri, gatal, pandangan
kabur, peka terhadap cahaya, terbentuk keropeng pada kelopak mata
ketika bangun pada pagi hari.
Pengobatan:
Tergantung pada penyebabnya.
Kelopak mata dibersihkan dengan air hangat.
Jika penyebabnya bakteri, diberikan tetes mata atau salep yang mengandung antibiotik.
Untuk konjungtivitis karena alergi, antihistamin per oral (melalui
mulut) bisa mengurangi gatal-gatal dan iritasi. Atau bisa juga
diberikan tetes mata yang mengandung corticosteroid.
Pencegahan:
- Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan sesudah
dibersihkan atau mengoleskan obat, penderita harus mencuci tangannya
bersih-bersih.
- Usahakan untuk tidak menyentuh mata yang sehat sesudah menangani mata yang sakit.
- Jangan menggunakan handuk dan lap bersama-sama dengan penghuni rumah lainnya.
- Gunakan lensa kontak sesuai dengan petunjuk dari dokter dan pabrik pembuatnya.
*)Dirangkum dari www.medicastore.com
Anemia adalah penyakit yang ditandai oleh rendahnya kadar hemoglobin
dalam darah. Akibatnya, fungsi dari hemoglobin untuk membawa oksigen ke
seluruh tubuh tidak berjalan dengan baik. Menurut kriteria WHO,
seseorang mengalami anemia bila kadar Hb < 11 g/dl pada usia kurang
dari enam tahun, dan kadar Hb < 12 g/dl pada usia lebih dari enam
tahun.
Pada anak-anak, kasus anemia umumnya disebabkan oleh kekurangan zat
besi. Apa sebenarnya fungsi zat besi di dalam tubuh? Di dalam tubuh,
zat besi berfungsi untuk mengangkut oksigen dan zat-zat makanan ke
seluruh tubuh serta membantu proses metabolisme tubuh untuk
menghasilkan energi. Jika asupan zat besi ke dalam tubuh kurang, dengan
sendirinya sel darah merah juga akan berkurang. Tubuh pun akan
kekurangan oksigen. Akibatnya timbullah gejala-gejala anemia seperti:
letih, lemah, lesu, lelah, dan lalai, nafsu makan berkurang,
produktivitas kerja berkurang, pucat (terutama pada mata, bibir dan
telapak tangan), kemampuan belajar berkurang, pertumbuhan terhambat dan
lebih mudah terkena penyakit/infeksi.Anemia juga mengganggu pengaturan
suhu tubuh dan membuat seseorang lebih mudah keracunan timbal.
Penyebab anemia sangat beragam. Tapi umumnya terjadi akibat perdarahan
kronik (menstruasi, melahirkan dan menderita wasir), parasit yang
bersarang dalam tubuh (contohnya cacing tambang), dan asupan
makanan yang tidak cukup secara kualitas dan kuantitas.
Apa akibatnya jika ADB diderita oleh anak-anak?
ADB yang terjadi pada bayi erat kaitannya dengan tingkat kecerdasan
yang rendah dan ketidakmampuan belajar anak itu di kemudian hari.
Alhasil ketika si anak memasuki usia prasekolah dan sekolah maka daya
konsentrasi, daya ingat dan tingkat kecerdasannya rendah.
Jika terjadi pada anak usia sekolah, maka anak itu akan mengalami
kemunduran dalam kemampuan belajar. ADB bisa mempengaruhi kognisi
melalui dua cara yaitu:
Secara langsung: ADB dapat mengarah pada rendahnya unsur besi di
dalam otak yang dapat mengganggu mielinasi sel-sel syaraf dan
fungsi-fungsi neurotransmiter. Perubahan-perubahan ini pada gilirannya
membuat maturasi sistem syaraf pusat terlambat. Akibatnya, pola-pola
perilaku dan isolasi fungsional berubah.
Secara tidak langsung: ADB dapat merusak kognisi dengan mengurangi
kemampuan si anak untuk memusatkan perhatian dan merespons
lingkungannya.
Sementara itu, penelitian lainnya menunjukkan, anak-anak yang menderita
ADB memperlihatkan skor yang buruk dalam tes-tes psikologi,
perbendaharaan kata, membaca dan matematika. Selain itu, prestasi
mereka di sekolah juga rendah, perkembangan motorik terlambat,
kemampuan memori mereka memburuk dan daya tahan mereka terhadap
serangan penyakit menurun.
*) dirangkum dari Republika
 | Pesat 6 | Jan 23, '07 9:00 PM for everyone |
| Start: | Jan 27, '07 08:00a | | End: | Jan 27, '07 2:00p | | Location: | Gedung Ventura-TB Simatupang |
Selama ini, tiap kali mau imunisasi, apalagi yang oral, saya selalu
dipesan sama DSA nya Bijan untuk gak kasih ASI satu jam sebelum dan
sesudah imunisasi. Katanya sih nanti vaksinnya gak bisa bekerja dengan
baik karena sudah dilumpuhkan oleh ASI.
Saya sih nurut terus. Jadi kalo mau imunisasi, Bijan selalu dikasih asi
dulu sampe kenyang baru berangkat. Sesudahnya gitu juga, nunggu 1 jam
dulu baru bisa kasih ASI lagi ke Bijan.
Beberapa hari yang lalu di milis Sehat dibahas soal ini. Ada yang nanya dan jawabannya ternyata mengagetkan ya. Hehehehe...
Salah satu jawaban dari member milis, Mbak Lita Mariana adalah sebagai berikut:
Saya pernah berdiskusi dengan DSA anak saya tentang 'kebijakan' jangan memberi ASI setelah imunisasi ini.
Teori ini didasarkan pada kenyataan
bahwa di dalam ASI terkandung antibodi yang dapat memusnahkan daya
kerja vaksin hidup. Makanya harus menunggu sejam dulu, supaya vaksin
'terserap' dan tidak keburu 'ketemu' antibodi. Saya juga diberitahu hal
yang sama oleh bidan saat memberi imunisasi Polio.
Lantas apakah benar?
Tidak benar.
Pemberian ASI sesudah maupun sebelum
imunisasi tidak memberi pengaruh terhadap kinerja vaksin. Keyakinan ini
memang timbul di 'angkatan tua', sebelum ilmu kedokteran semaju
sekarang, jadi tidak mengherankan kalau ibu-ibu jaman sekarang belum
pernah dengar.
Waduuuh... jadi selama ini saya salah dong ya. Hehehe... Tapi,
pikir-pikir lagi, Mbak Lita Mariana ini siapa sih? Kayaknya bukan
dokter deh. Jadi jawabannya masih diragukan.
Eeehhh, beberapa hari kemudian ada jawaban dari Dokter Wati tentang masalah ini. Kata beliau gini:
Kalau baca Red Book nya AAP, tidak ada klausul habis polio tidak boleh asi demikian juga dengan imunisasi lainnya.
Hihihihiihi... kalo udah gini gak mungkin salah lagi kan. Yang ngomong
dr. Wati gitu lho. Panduannya dari AAP (American Academy of Pediatrics) pula. Kasian Bijan, selama ini
suka kehausan kalo lagi imunisasi akibat Ibunya bloon. Hehehehe
 | Kawasaki | Oct 2, '06 11:41 PM for everyone |
Pertama-tama ini bukan merek motor lho. Nama penyakitnya memang
kedengeran gak pas dan bikin kita pengen ketawa. Cuma kalo tau
akibatnya... Aduuuh jadi gak pengen ketawa deh.
Gara-garanya kemarin baca email di milis kalo ada salah satu anggota
milis yang putranya (umur 11 bulan) kena virus ini. Jadi kaget, karena
selama ini kalo si ibu kirim email nanya soal anaknya yang panas naik
turun, saya selalu skip. Ternyata bener ya feeling Ibu, dia udah
nyangka sih kalo demam anaknya itu bukan common fever.
Anaknya itu demam sudah 2 minggu tanpa flu, ada rash di seluruh badan,
mata dan bibir merah dan anaknya itu rewel dan lemas. Udah tanya ke 3
dokter tapi diagnosanya beda-beda terus dan gak ada satu pun yang
bilang itu virus kawasaki.
Jadi inget Bijan yang kemarin sempet panas. Kepikiran terus deh semalem
sampe berdoa khusus biar Bijan gak kena penyakit yang aneh-aneh dan
sehat-sehat terus. Subuh sih diceritain itu cuma iya-iya aja. Kali
dipikirnya sebelum kena anak gw, nyantai-nyantai aja deh dulu. Hehehe.
Lagi ribet mikirin THR kali dia.
Balik lagi ke si virus Kawasaki ini, tanda-tandanya adalah:
1. Demam naik turun 39-40 dan menetap lebih dari 5 hari dan tidak
memberikan respon terhadap ibuprofen dan asetaminofen dalam dosis normal
2. Rewel tampak mengantuk
3. Kadang timbul nyeri kram perut
4. Ruam kulit di seluruh tubuh dan di daerah yang tertutup popok
5. Ruam pada selaput lendir (vagina dan lapisan mulut)
6. Tenggorokan tampak merah
7. Bibir merah, kering dan pecah-pecah
8. Lidah tampak merah (strawberry red tongue)
9. Kedua mata tampak merah tanpa disertai keluarnya kotoran
10. Telapak tangan dan kaki tampak merah, tangan dan kaki membengkak
11. Kulit di jari tangan dan kaki mengelupas (pada hari ke 10-20)
12. Pembengkakan kelenjar getah bening leher
13. Nyeri persendian dan pembengkakan, seringkali simetris pada sisi tubuh kiri dan kanan
14. Umumnya menyerang anak usia 2 bulan sampe 5 tahun
15. Dua kali lebih sering menyerang anak laki-laki
Sekitar 5-20% penderita mengalami komplikasi jantung yang biasanya timbul pada minggu ke 2-4:
1. Peradangan arteri koroner (arteri yang membawa darah ke jantung)
2. Pelebaran bagian dari arteri koroner
3. Peradangan kantung jantung
4. Peradangan otot jantung
5. Gagal jantung
6. Kematian otot jantung
Buat lebih jelasnya bisa liat attachment berikut. Isinya tentang
sharing dari Ibu yang anaknya pernak kena virus ini, terus keterangan
dari medicastore tentang virus ini.
Attachment: Virus Kawasaki.docAttachment: Sharing Kawasaki.docAttachment: Penyakit Kawasaki Sering Diduga Campak.doc
Kalo Bijan demam seisi rumah langsung ikut-ikutan lesu. Kayak hari
Minggu kemarin. Pagi-pagi sih pas bangun gak kenapa-kenapa. Cuma abis
dimandiin terus tidur gak lama kemudian badannya panas. Waktu diukur
pake thermometer suhunya udah 38, 4 aja. Hmmm... gak boleh panik dong
ya. Menurut Mayo Clinic, 38, 3 sampe 40 itu masih selfcare. Jadi deh
diterapin tatalaksana penanganan demam:
1. Kasih cairan sebanyak-banyaknya, alias dikasih asi terus. Jadi Bijan minumnya banyaaaak banget. Sampe pegel deh.
2. Kompres dengan air hangat alias direndam di bak mandi yang isinya
air hangat. Untung Bijan seneng main air. Jadi deh dia gembira dan
ceria direndem di bak mandi.
3. Kasih penurun panas. Yang aman tuh Panadol atau Tempra. Tapi dengan catatan kalo suhu badannya udah di atas 38,5.
Sampe sore treatment rendeman di bak mandi masih mempan. Panasnya juga
naik turun dari 38,6 sampe 39,1. Subuh udah keliatan mulai panik. Saya
kasih aja tuh buku Mayo Clinic dan panduan dari milis sehat.
Keliatannya dia mulai tenang abis baca-baca itu.
Kira-kira jam 7 malem, Bijan masih demam aja. Panasnya masih di atas
38,5, dia mulai rewel dan keliatan lemes banget. Akhirnya kita kasih
Tempra deh 0,8 ml. Eh gak berapa lama kemudian dia muntah. Yang keluar
tuh lendir, susu dan pastinya si Tempra ya.
Bijan keliatan sedih gitu ngeliat muntahannya. Mungkin dia sayang ya
sama susu yang tadi diminumnya. Akhirnya kita kasih makan bubur susu
beras merah. Itu kan makanan kesukaannya dia. Cuma porsinya setengah
dari porsi biasa. Eh habis lho. Mungkin dia laper banget.
Abis itu langsung kita bawa ke kamar dan bobo sambil minum susu.
Waaah... minum susunya banyaaaaak banget. Sepanjang malem itu saya
sampe pindah posisi 2 kali. Karena si susu sebelah kiri udah kosong
sementara Bijan masih pengen minum susu.
Besok paginya bangun-bangun Bijan udah normal kayak biasa. Ketawa-tawa
dan mulai loncat-loncatan lagi. Diukur suhunya 37. Aduuuhhh lega deh.
Ibu jadi bisa berangkat kerja dengan tenang. Hari Senin kemarin itu
harus masuk soalnya. Kerjaan numpuk. Hehehehehe... Thanks asi. Kamu
obat yang bener-bener manjur deh.
Ini ada attachment beberapa artikel soal fever. Sumbernya kalo nggak dari dr. Wati, milis Sehat, dan dari Mayo.
Attachment: Fever - Common Question.docAttachment: Fever dari Mayoclinic.docAttachment: Fever in Children.docAttachment: Fever Management.docAttachment: Fever%20%80%A0%A0%92%B7%20Making%20Your%20Child%20Comfortable.doc
| |